• Jelajahi

    Copyright © m.metropolitan.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Kasus Pertama Kematian Sapi Akibat Positif Terjangkit PMK

    Sku Metropolitan
    02/06/22, 22:51 WIB Last Updated 2022-06-02T15:51:05Z

     

    BANDUNG, MEDIA METROPOLITAN-Kota Bandung mencatatkan kasus pertama kematian sapi akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sapi yang mati itu sebelumnya telah dikarantina akibat positif terjangkit PMK.


    Dari 5 ekor yang positif itu, sekarang tersisa 3 ekor lagi. Satu mati karena kondisinya semakin parah, satunya lagi dipotong karena si peternaknya khawatir menyebar ke sapi yang lain,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung Gingin Ginanjar, Kamis (2/6/2022).


    Gingin menyebut kasus kematian sapi akibat PMK itu terjadi di tempat peternakan wilayah Babakan Ciparay, Kota Bandung. DKPP hingga kini terus memantau kondisi kesehatan sapi-sapi yang tengah dikarantina tersebut.


    “Yang awal kasus itu ada di Babakan Ciparay didugs ada 50 yang positif PMK, tapi kita ambil sampel itu 14 ekor karena syaratnya 10 persen dari koloni. Sapi yang di Babakan Ciparay dikirim dari Purwakarta,” ungkapnya.


    Selain di Babakan Ciparay, sapi di wilayah peternakan yang sudah mulai terjangkit PMK kini bertambah. Gingin menyebut dua wilayah lainnya juga terindikasi terjadi wabah PMK yaitu di Cisurupan, Kecamatan Cibiru dan Kecamatan Bandung Kulon.


    “Dua hari lalu kita dapat kabar ternyata ada di wilayah Cisurupan ada sapi perah dan sapi potong yang suspect PMK, kemarin sudah diambil sampelnya. Terus di Bandung Kulon juga ada laporan, sampelnya juga sudah diambil dan tinggal menunggu hasilnya,” katanya.


    “Jadi kalau dilihat dari jumlah Kecamatan, sudah 3 tiga kecamatan yang terserang PMK yaitu Babakan Ciparay, Cibiru dan Bandung Kulon,” ucapnya menambahkan.

    .

    Untuk mencegah penularan PMK makin meluas, DKPP akan mulai mengawasi jalur distribusi sapi dari luar wilayah. Sebab menurut Gingin, distribusi sapi yang masuk ke Kota Bandung terjadi lewat jalur kewilayahan dan tak menggunakan jalur arteri.


    “Seperti yang di Cisurupan, kita meminta kelurahan dan kecamatan menjaga di wilayahnya. Karena sekarang ada kecenderungan justru distribusi dari luar daerah tidak menggunakan jalan besar melainkan ke jalan kewilayahan bukan jalan arteri,” pungkasnya. (Supriyanto)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Pendidikan

    +