• Jelajahi

    Copyright © m.metropolitan.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Oknum Polisi Diduga Tidak Profesional, Korban Lapor ke Propam Mabes Polri

    Sku Metropolitan
    10/11/22, 16:17 WIB Last Updated 2022-11-10T09:17:32Z

     

    JAKARTA, MEDIA METROPOLITAN-- Penangkapan yang dilakukan oknum Polri terkadap 6 orang warga Langsa, Medan, Sumatera Utara. Keluarga dan korban datang dari Medan, Sumatra utara untuk melaporkan ke Propam Mabes Polri Jl. Trunojoyo No.3, RT.2/RW.1, Selong, Kec. Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (09/11/2022).
     
    Ke-dua orang tersebut, salah satunya adalah korban Herialdi didampingi penasehat hukum Dr. Manotar Tampubolon, SH, MA, MH, dan Maniur Sinaga, SH, MH,
     
    Menurut korban Herialdi yang ikut mengalami dalam peristiwa tersebut menjelaskan, berawal saat dia bersama rekannya sedang berkendara dari daerah Langsa mengarah kota Medan, Sumatera Utara, pada Minggu (08 Juli 2018) silam. Namun ditengah perjalanan tiba-tiba mobil yang dikendarai diberhentikan oleh sebuah mobil minibus Toyota Avanza, tanpa ada alasan yang jelas, para oknum tersebut juga tidak menunjukkan identitas. Kemudian  langsung menyuruh turun dari mobil dan melakukan pemukulan oleh oknum yang diperkiraan 4 (empat) orang.
     
    Selanjutnya setelah mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi Herialdi bersama rekannya langsung diboyong ke Polsek Brandan.
     
    "Atas kejadian tersebut para korban  melangalami babak belur dan bahkan  satu orang meninggal dunia, itu sebabnya kami datang ke Mabes Polri ini untuk mencari keadilan dan melaporkan sebuah peristiwa yang disinyalir pelanggaran HAM berat, walaupun kami menggunakan bis. Padahal salah satu yang menjadi korban adalah dengan kondisi cacat /disabilitas (tanpa kaki-red) sejak lahir, pendidikannya juga hanya sempat duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) tidak sampai lulus. Pun, penyandang disabilitas itu tidak luput dari pemukulan, serta diborgol sehingga korban mengalami memar di sebelah kiri bagian rusuk" sebutnya.
     
    Harap Herialdi dengan kedatangan di Mabes Polri, agar para oknum yang diduga melakukan penganiayaan diusut tuntas serta diproses secara hukum yang berlaku.
     
    Sementara Jupatri Sinaga yang turut hadir untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran dari peristiwa itu, adalah saudara dari almarhum, S. Malau, menjelaskan bahwa almarhum S. Malau menjadi salah satu korban dugaan penganiayaan salah tangkap oleh oknum Satres narkoba Polrestabes Medan.
     
    "Sayalah pengadunya. Kronologis kejadiannya pada tanggal 28 Juli 2018 Abang saya S. Malau beserta temannya. pergi ke Aceh ditengah perjalanan tiba-tiba langsung dihentikan oleh 2 tim dari sat narkoba Polrestabes Medan. Hari itu langsung dipukulin. 3 (tiga) orang dikeluarkan dari dalam mobil dan sementara abang Ipar saya masih berada di dalam mobil. Pada saat kejadian, saya menanyakan lewat telepon, kenapa dipukuli, kemudian korban menjawab, kami tidak tahu kenapa kami dipukulin. Pada saat kejadian saya berada di rumah," ucapnya.
     
    "Kemudian sekitar pukul 03.30 WIB lanjutnya, saya dihubungi oleh pihak rumah sakit puskesmas Pangkalan Brandan dan menanyakan, apakah benar keluarga dari Malau, dan disuruh segera ke puskesmas karena kecelakaan. Saya dan istri langsung berangkat ke Puskesmas. Tiba disana sekitar pukul 5.30 WIB. Kemudian saya langsung melihat keadaan mobil saya ringsek dan satu mobil Innova berada di kanan jalan. Pada saat itu, saya langsung bertanya pada Kanit Lantas Pangkalan Brandan, bagaimana tentang kejadian ini, dan dia mengatakan, kejadian ini sudah ditangani oleh Polres Langkat'. Saya mendapat kabar dari puskesmas bahwa abang saya S. Malau sudah keadaan tidak bernyawa, akhirnya saya membawa pulang jenazah atas ijin dari pihak kepolisian, dengan duka yang sangat mendalam. ucap Jupatri usai membuat Laporan resmi ke Sentra Pelayanan Propam Polri.
     
    Jupatri mengisahkan, bahwa pada malamnya pukul 18,30 WIB semua korban dipanggil untuk diminta menceritakan kejadian saat itu. Dalam ceritanya pada pukul 23.30 WIB mereka di stop oleh oknum polisi langsung dipukuli di luar kendaraan. Kemudian salah seorang korban memberitahùkan  bahwa masih ada seorang lagi didalam mobil, dan hal tersebut disampaikan kepada oknum Polisi pada saat kejadian,  dijawab dengan tidak ada.
     
    "Dalam kasus ini, saya tidak mendapat kejelasan, seolah-olah dipermainkan, dilempar ke Polres Langkat, kemudian Polrestabes Medan, bahkan Poldasu. Akhirnya saya buat laporan pertama pada tanggal 10 Oktober 2018 ke Polda Sumut, lalu ke Propam Mabes Polri tahun 2018 juga, kemudian ke Kapolri, juga Presiden Jokowi dengan harapan kasus ini terbuka secara terang benderang," jelasnya.
     
    Dalam kesempatan itu dikatakan, satu tahun menunggu baru dapat  Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dari Polda Sumatera Utara dengan uraian, bahwa tidak ada keberatan lagi dari pihak yang dianiaya atau korban. Termasuk untuk korban meninggal keterangannya hanya sebagai korban kecelakaan saja tidak ada penganiayaan, dengan pernyataan SP2HP seperti ini, tidak masuk akal, sebutnya.
     
    Dr. Manotar Tampubolon, SH, MA, MH, kuasa hukum para korban, mengatakan bahwa sudah melaporkan 10 (sepuluh) oknum dari Sat Narkoba Polresta medan yang diduga melakukan penyekapan secara ilegal, dugaan pembunuhan atas S. Malau karena dalam keteranganya ada yang meninggal.
     
    "Kalau tidak ada penangkapan ilegal itu tidak mungkin ada yang mati. Dari 10 orang yang kami laporkan ke Propam Polri saat ini ada  seorang yang telah dimutasi ke Mabes Polri dan Untuk laporan ke 2 adalah Propam Poldasu tidak karena becus menangani pengaduan klien kami karena sudah beberapa tahun lalu dilaporkan ke Polres kemudian dilimpahkan ke Polda Sumut, tetap laporan itu tidak jelas. Jadi hari ini juga kami laporkan oknum Propam Polda Sumut. Mereka seharusnya diberi ganjaran atau sanksi yang tegas sesuai etika profesi Polri karena sudah menelantarkan pengaduan klien kami," ungkap sang Doktor.
     
    Senada dengan Maniur Sinaga, merasa turut prihatin atas ulah para oknum dalam menangani setiap aduan dari warga masyarakat apalagi sampai memakan waktu tahunan tidak ada kejelasan dan kepastian hukum bagi masyarakat.
     
    "Ini perlu direformasi moral dan akhlak dalam penegakan hukum. Nah, ini akan kita perjuangkan khususnya yang datang dari Langkat (klien-red) bisa mendapatkan keadilan sesuai dengan visi misi Kapolri saat ini," ucap Maniur. (beresman)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Pendidikan

    +