• Jelajahi

    Copyright © m.metropolitan.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Perkara KDRT Usai Pembacaan Tuntutan Korban Teriak Dalam Persidangan

    Sku Metropolitan
    28/12/22, 09:56 WIB Last Updated 2022-12-28T03:20:23Z


    KOTA BEKASI MEDIA METROPOLITAN - Sidang lanjutan dengan agenda Pembacaan Tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam Perkara Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), No. 578/Pid. Sus/2022/ PN. Bks. Atas nama terdakwa, Rovel Ganda Pangihutan Simbolon (RGPS) dan korbannya adalah isterinya sendiri, Novalita Harahap (NH). Disidangkan diruang sidang Sari II, Pengadilan Negeri Kelas I A Khusus Kota Bekasi, Selasa, 27/12/2022.


    Dalam acara sidang pembacaan tuntutan oleh JPU, Akhmad Hotmartua, SH., menyebutkan bahwa berdasarkan keterangan para saksi-saksi dan keterangan terdakwa RGPS telah bersesuaian, didepan Majelis Hakim dan Kuasa Hukum terdakwa dalam persidangan membenarkan telah terjadi tindak pidana "Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)," yang terjadi pada Minggu, 12/12/2021, sekira jam, 14.00 Wib, di Jl. Jaya Abadi, No. 3, Rt. 008/015, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi.


    Dalam surat tuntutan JPU disebutkan bahwa awal kejadian, ketika korban NH usai membagikan makanan kepada orang-orang tidak mampu didepan rumah Pendeta, korban NH hendak pergi bersama anaknya naik mobil, namun tiba-tiba mobil korban NH dicegat oleh mobil Frangky yang merupakan keponakan terdakwa RGPS, kemudian korban NH turun dari mobilnya hendak menanyakan Frangky, apa maksud dan tujuannya menghalangi jalannya, tidak lama kemudian datang beberapa orang bersama terdakwa RGPS langsung merangkul korban NH dengan tangan kanan ke leher korban NH, akan tetapi koban NH berusaha melawan untuk lepas dari cengkraman terdakwa.

    Selanjutnya terdakwa RGPS melepas tangan dileher dan berpindah keleher dan mencekik leher korban NH dengan menggunakan tangan kanan sambil mendorong hingga kepala korban NH terbentur tembok, saksi korban NH teriak minta tolong - tolong, tetapi terdakwa berkata "apalu tolong - tolong," dan langsung membekap mulut korban NH dengan tangan kiri terdakwa.

    Korban NH berusaha lepas dengan cara berontak langsung terdakwa membanting NH hingga terjatuh ke Aspal kemudian terdakwa mengijak perut NH dengan kaki kanan, sambil berkata, "gua abisin lu," korban NH berusaha bangun, namun tangan terdakwa menahan, dengan tangan kirinya menghantam kearah bahu kanan sehingga NH kembali terjatuh, selanjunya terdakwa menggenggam kedua tangan NH sambil menyeretnya masuk kedalam mobil, yang didalam mobil tersebut, ada saksi Rona Simbolon dan saksi Rita Simbolon yang merupakan kakak kandung terdakwa.

    Rencana kakak terdakwa akan memulangkan NH secara kekeluargaan kepada keluarga yaitu kakak dari ibu kandung NH, namun tidak ada dirumah, sehingga mereka istirahat di POM Bensin, Jati Asih, kemudian korban NH berpura-pura ke Toilet SPBU untuk buang air besar akan tetapi didalam Toilet, korban NH menghubungi Polres Bekasi Kota untuk minta perlindungan, tidak lama kemudian datang Polisi dari Sektor Jati Asih, kemudian korban NH diamankan di Posek Jati Asih dan pada malam itu juga korban NH disarankan buat laporan ke Polres Bekasi Kota.


    Sesuai fakta-fakta yang terungkap dipersidangan bahwa JPU, berkeyakinan terdakwa RGPS telah terbukti melanggar pasal 44 ayat (1) UU RI, No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT dengan melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam rumah tangga sebagai mana dimaksud dalam Pasal 5 huruf (a) sebagaimana dakwaan pertama.


    Pasal 44 ayat (1) yang berbunyi,  "Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal, 5 huruf (a) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).


    Berdasarkan fakta-fakta persidangan JPU, Ahmad dalam tuntutannya meminta agar Majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa RGPS dengan pidana penjara selama 8 (delapan) bulan  dengan perintah untuk ditahan. 


    Mendengar tuntutan JPU tersebut, Korban Novalita langsung teriak dipersidangan, " saya tidak terima, itu tidak adil" sebutnya dengan nada tinggi, namun salah seorang majelis hakim dapat menenangkan korban hingga acara persidangan ditutup dan dilanjut minggu depan dengan acara pledoi dari kuasa hukum terdakwa.


    Usai persidangan Korban Novalita mengungkapkan kepada media, bahwa dirinya sebagai korban tidak terima dan merasa tidak adil atas tuntutan yang dibacakan JPU, Akhmad yang hanya 8 (delapan) bulan penjara atas perbuatan terdakwa yang berulangkali menganiaya dirinya. Pada hal dalam Pasal, 44, ayat (1) atau Pasal, 5, huruf (a) ancamannya 5 (lima) tahun penjara, dimana keadilannya, tanya korban.


    "Saya sangat kecewa atas tuntutan JPU, Akhmad, pada hal dalam tuntutannya disebutkan bahwa terdakwa RGPS terbukti bersalah melanggar pasal dalam dakwaan pertama, dengan ancaman 5 tahun penjara, tapi tuntutannya hanya 8 bulan penjara, saya curiga, ada apa terdakwa dengan Kejaksaan Negeri Bekasi.

    Namun saya percaya kepada yang Hakim Mulia, Pimpinan Ketua Majelis Hakim, Abdul Rofik, SH., MH., serta masing-masing anggota Ranto Indra Karta, SH.,MH., dan Beslin Sihombing, SH.,MH., bahwa kebenaran dan keadilan itu ada pada benak mereka. Majelis akan cermat menilai dalil-dalil dan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, juga akan mempertimbangkan dengan cermat para saksi fakta dan saksi a de charge (saksi menguntungkan terdakwa) yang masih keluarga dari terdakwa, ujar Korban Novalita dengan linangan air mata.

    (beres)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Pendidikan

    +