Terdakwa Diduga Salah Tangkap atau Perkara Dipaksakan

oleh -70 Dilihat
oleh

KOTA BEKASI, MEDIA METROPOLITAN – Sidang perkara pidana no. 24/Pid.Sus/2024/PN BKS. Yang dipimpin Hakim Ketua Majelis, Noor Iswandi, SH, sementara Hakim Joedi Prajitno, SH.,MH dan Joko Saptono SH., MH., masing-masing hakim anggota majelis,
pada Pengadilan Negeri Bekasi Kelas IA Khusus.
Jl. Pangeran Jayakarta RT.004/RW.003, Harapan Mulya, Medan Satria, Kota Bekasi, Jawa Barat

Perkara ini menjadi perhatian serius dari pengunjung sidang, dimana terdakwa Fadhilah Azmi Fauzan tidak mengakui hasil penyidikan polisi dan tidak menandatangani BAP, karena saat terjadi tauran antar sekolah tersebut, terdakwa berada di rumah pacarnya, ada dugaan salah tangkap atau perkara dipaksakan

JPU dan Kuasa Hukum terdakwa saling serang.
Bahwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) nampaknya, lupa atau tidak serius menyikapi persidangan ini, padahal persidangan ini menyangkut/mempertaruhkan nasib dan masa depan manusia/orang, bukan sekedar bagaimana orang harus dihukum,

H. Achmad Sabri SH., S.Stmk, MH., kuasa hukum terdakwa, mengatakan
“fakta-fakta persidanganlah yang harus menjadi pedoman kita semua dalam mencari kebenaran materil, agar keadilan itu dapat tercapai.” ujarnya.

Atas jawaban atau tanggapan atau Duplik atau Replik Jaksa Penuntut Umum, yang mengatakan Pembelaan terdakwa dan kuasa pada pokoknya tidak dapat diterima dan haruslah ditolak karena tidak didung bukti pendukung,

Maka atas tanggapan JPU tersebut, kami sebagai penasehat hukum terdakwa, tidak bermaksud untuk memperlambat atau mempersulit jalannya persidangan, hanya untuk mencari kebenaran sejati / materil dalam menegakkan hukum dan keadilan dalam perkara ini, banyak sekali terjadi penyimpangan- penyimpangan atau pelanggaran-pelanggaran Hukum Acara Pidana yang terungkap dalam tahap Pembuktian dan pemeriksaan saksi-saksi dan barang bukti yang terjadi dalam prosesnya dan kami melihat adanya upaya Obstruction of justice yang terjadi yang dilakukan penyidik bersama-sama dengan Jaksa Penuntut Umum dan ini harus diluruskan, sehingga terdakwa mendapatkan keadilan sebenarnya sebagaimana yang telah disampaikan dalam pledoi Terdakwa dan Penasehat hukum.

Kuasa hukum terdakwa mengingatkan khususnya kepada diri kami selaku pribadi dan Advokat jangan sampai terjadi lagi kasus pembunuhan VINA diwilayah Hukum Cirebon yang saat ini sedang menjadikan sorotan publik dan para pakar / praktisi Hukum terulang kembali diwilayah Hukum Bekasi Kota akibat kelalain kita sebagai penegak hukum, inilah saatnya kita kembalikan marwah Penegakkan Hukum ini sebagaimana yang dikehendaki oleh masyarakat pada umumnya dan pencari keadilan pada khususnya.

Begitu juga pemilik Hp dan No. Hp saksi Yulia Rahma sebagaimana diakui oleh saksi didepan persidangan, Hp saksi adcharge Yulia Rahma sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya yang pada saat dibawa ke Polresta Metro Bekasi kota diamankan oleh anggota opsnal Polresta Metro Bekasi Kota bernama Buchori, didalam HP tersebut seharusnya dijadikan barang bukti menjadi alat bukti bahwa chatingan antara Yuliana dan terdakwa ada tertulis dalam di HP tersebut sebagaimana bukti yang diajukan dalam persidangan dan pledoi atau pembelaan terdakwa.

Sementara faktanya yang diajukan dalam permohonan Penetapan Penyitaan kepada Pengadilan Negeri Bekasi hanya Hp terdakwa Fadilah Azmi Fauzan dan pada saat persidangan, ketika Penasehat Hukum memperlihatkan print chatingan kepada saksi dihadapan Majelis Hakim sidang dan disaksikan Jaksa Penuntut Umum sepatutnya Jaksa Penuntut Umum menghadirkan Hp terdakwa atau Hp saksi adcharge Yulia Rahma untuk dibuka dan dilihat bersama-sama didepan Majelis Hakim Sidang, tapi Jaksa Penuntut Umum tidak melakukannya.

Dalam perkara ini (In casu) tidak pernah dilakukan Rekonstruksi, fakta-fakta persidangan yang diuraikan dalam pledoi memberikan gambaran adanya urutan waktu dan keberadaan terdakwa Fadhilah Azmi Fauzan, pada tanggal 12 Oktober 2023 terlihat/tergambar dari jam 18.00 sampai dengan jam 19.05 berada dirumah dan kegiatan yang dilakukan, jam 19.05 wib jalan kerumah Yuliana Rahma dan tiba jam 19.35 wib, jam 20.20 wib ada saksi lain yang melihat saat berkunjung kekediaman Yulia Rahma, bukan asumsi atau pendapat dalam pledoi penasehat hukum menyatakan dalam fakta persidangan antara saksi-saksi sudah berkesusaian, dan bertentangan dengan keterangan terdakwa itu sendiri, sehingga dalam hal penasehat hukum meminta putusan bebas kepada Majelis Hakim adalah tepat.

Dalam perkara ini terdakwa telah membuktikan alibinya, dan menyatakan keterangan tersebut diberikan dalam tekanan, sedang keterangan terdakwa harus diberikan dalam keadaan bebas tanpa tekanan apapun Pasal 117 ayat (2), KUHAP, bahwa Keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun atau dalam bentuk apapun. Pasal 189 ayat (1) KUHAP mengatakan bahwa “ keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan disidang tentang perbuatan atau yang ia keteahui sendiri atau alami sendiri”. Semua yang disampaikan oleh terdakwa disidang, tidak ada bentuk rekayasa atau pembenaran yang dilakukan terdakwa, seperti uraian Ahli Dr. Idris Wasahua, SH., MH., telah kami uraiakan dalam pledoi harus dipertimbangkan.
Ayat (4) pasal ini juga menegaskan bahwa “Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain. Jaksa Penuntut Umum sendiri tidak dapat menghadirkan bukti lain sebagaiman dimaksud ayat ini .

Barang bukti yang disita adalah sepeda motor warna merah, saksi Nurfaujiapto als Oji jelas didepan persidangan bahwa melihat korban dikejar oleh dua orang dengan mengendarai sepeda motor matic warna hitam dan orang yang dibonceng mengeluarkan clurit serta melakukan pembacokan, keterangan ini juga diperkuat dengan keterangan Rivzky Akbar Ramadhan, bahwa korban dikejar oleh orang orang yang mengandarai sepeda motor honda metic warna hitam dan lampu berwarna biru.

Terhadap penetapan tersangka / terdakwa seorang diri dalam kasus yang judulnya “TAWURAN” ini menjadi pertanyaan besar bagi kami selaku penasehat hukum, karena Jaksa Penuntut Umum memiliki kewenangan untuk menyatakan berkas perkas dinyatakan lengkap baik materil dan formil serta dapat diajuka ke Pengadilan untuk disidangkan, timbul pertanyaan besar dikepala kami bagaimana dengan status teman terdakwa yaitu Tengku Azril Maulana als Panjul, Aditya Firmansyah, Arjun Lukman Sayid, Galang Fkriya dan Muhammad Ilham Hirmawan yang secara sadar mengakui ikut langsung dalam tawuran dan sampai saat ini masih melenggang bebas, itupun kalaulah terdakwa benar sebagai pelaku pembacokan , sebagaimana kami uraikan didalam kesimpulan pledoi penasehat hukum terdakwa bahwa pelaku yang sebenarnya adalah Arya dan Afrizal als Jale sampai detik ini masih buron, melihat ada upaya penyidik dan Jaksa Penuntut Umum melakukan tukar kepala asal perkara ini bisa selesai, terkait dengan ini kami ingat satu pepatah orang tua kita dahulu yang selalu menasehatkan anak-anaknya mengatakan “Jangan Gajah dipelupuk mata tidak terlihat tapi semut diseberang lautan sangat terlihat,” ujar Achmad Sabri.

Ismanto, orang tua terdakwa
Merasa ditipu Polisi Polrestro Bekasi Kota, “Polisi datang kerumah saya, menanyakan keberadaan anak Fadhilah, memang kebetulan ada dirumah langsung ditangkap, polisinya berkata kita pinjam dulu anaknya, nanti akan kita kembalikan hingga ditunggu sampai magrib tidak kunjung datang, namun lewat RW memberitahukan bahwa anak saya telah ditahan menyangkut masalah tauran. Saya kaget dan langsung menuju Polres, saya lihat disana ada sekitar lima orang, namun kelimanya dipulangkan dengan upeti, hanya anak saya ditahan dan dijadikan tersangka, saya menduga hal ini diatur penyidik bersama kelima orang tersebut dalam kesaksiannya, karena salah seorang penyidik mengatakan, ‘sambil tepuk dada, saya pastikan anak bapak mendam dipenjara paling sedikit 6 tahun’ ujarnya pada Imron orang tua terdakwa, sedih rasanya yang tidak punya uang,” ujar Imron sambil menghela napas. (beres)

oleh
Penulis: beres

No More Posts Available.

No more pages to load.